Selasa, 08 September 2009

Tugas bahasa indonesia Artikel

Ciamis, Bukan Hanya "Ciung Wanara"



MASYARAKAT Ciamis, Jawa Barat (Jabar) dalam khasanah sastra Sunda dikenal memiliki cerita rakyat Ciung Wanara. Kisah yang melegenda itu, telah dibukukan oleh sastrawan Ajip Rosidi. Tapi Ciamis, ternyata menyimpan potensi lain yang tak kalah menariknya, tapi belum kembangkan secara maksimal.

 

Di antaranya objek wisata alam Curug Tuuh yang berlokasi di kampung Nanggela, Desa Sandingtaman Kecamatan Panjalu. Pada areal tanah milik Perum Perhutani seluas 300 hektare, merupakan objek wisata air terjun dengan dinding alam yang tinggi menjulang di sekitar lokasi.

 

Curug Satu

 

Di kiri kanan tempat itu menjulang tinggi bukit gunung Ciparang, dan Cibolang yang masih bagian dari gunung Syawal. Lingkungan alam di sekitarnya yang khas milik bumi Parahyangan menambah pesona lokasi wisata itu.

 

Selain itu, objek wisata ini memiliki udara yang sejuk dan bebas berada di kaki gunung Syawal, gunung yang mempunyai ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.

 

Hutan wisata Cibolang dengan nama Curug Tujuh-nya mempunyai daya tarik tersendiri, yakni dengan berjejernya curug, bernama Curug Satu, Curug Dua, Curug tiga dan seterusnya sesuai urutannya. Konon, satu di antaranya yaitu Curug Satu, airnya berkhasiat menyembuhkan sejumlah penyakit kulit.

 

Selama ini, memang belum banyak pengunjung yang datang setiap harinya, karena selain fasilitasnya belum memadai, juga promosi untuk objek wisata ini belum tersebar luas. Artinya, Cibolang masih kalah dengan objek wisata lainnya milik Perum Perhutani Unit III Jabar - Karangnini di pantai Pangadaran, Ciamis selatan.

 

Saat ini, hanya untuk masa-masa liburan, seperti hari Minggu, hari Raya Idul Fitri, Tahun Baru, 17 Agustus atau liburan sekolah, objek itu mampu menarik banyak pengunjung yang rata-rata golongan muda dan para pelajar.

 

Air bersih yang mengalir dari kali Cibolang, kali Cimantaja, cukup melimpah dan mudah didapat juga menjamin rasa aman, dan nyaman.

 

Curug Tujuh memang punya kelebihan jika dibandingkan dengan kebanyakan air terjun lain pada umumnya, di antaranya adalah air terjun tidak pernah surut sekalipun di musim kemarau, air yang mengalir berasal dari gunung Syawal dan yang paling utamanya berkhasiat untuk penyembuhan penyakit, seperti rematik, encok, dan pegal linu.

 

Dalam upaya menarik minat para pengunjung agar lebih betah tinggal beristirahat di lokasi hutan wisata, pihak pengelola terus menerus memoles dan memelihara sekitar lokasi hutan itu yang luasnya 300 hektare. Misalnya, di pintu masuk kawasan Curug dibuatkan pintu gerbang, dan ditanam berbagai jenis kayu langka.

 

Ikan Khas

 

Di samping pintu gerbang dibuatkan kolam ikan ukuran 20 kali 36 meter, yang airnya memanfaatkan air kali Cibolang. Kolam tersebut memelihara "ikan khas", sejenis ikan mas, diambil dari Kecamatan Mandarincan Kabupaten Kuningan. Dari jumlah 23 ekor ikan yang ditambakkan pihak Perhutani sejak delapan tahun lalu.

 

Kini, ikan-ikan tersebut sudah berkembang biak menjadi ratusan jumlahnya bahkan sampai seribu ekor, beratnyapun sudah ada yang mencapai lebih dari 5 kilogram. Ikan-ikan itu tak pernah ada yang mengganggu apalagi dicuri. Sebab, ada semacam kepercayaan yang ditabukan masyarakat "bagi siapa saja yang berani mengganggu".

 

Mengenai sarana transportasi menuju lokasi objek wisata Curug Tujuh tidaklah sulit, asal saja perjalanan dilakukan siang hari. Dari jalan raya jurusan Panjalu - Kawali, baik yang datang dari arah barat maupun dari arah timur, belok ke kampung Cipicung, Sandingtaman terus ke kampung Nanggela, dan sampailah ke Curug Tujuh.

 

Jalan yang dilalui cukup baik dan sudah beraspal, tetapi ada sekitar satu sampai dua km jalur jalannya berupa tanjakan yang agak tajam memang cukup mengasyikkan keindahan alam pegunungan yang masih perawan, dan bila menengok ke arah timur terlihat hamparan sawah yang cukup luas dan subur.

 

Pulang berwisata dari Curug Tujuh, bagi yang akan meneruskan perjalanan ke Bandung atau Tasikmalaya bisa mampir dan melihat Situ Lengkong, bisa juga berhenti sejenak sambil menikmati makanan khas daerah seperti wajit. Juga tak kalah nikmatnya menu goreng ikan hasil pancingan dari Situ Lengkong, seperti jenis mujair, mas, dan ikan kecil-kecil yang orang Panjalu menyebutnya ikan kulinyar.


0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright otoy tea 2010.
Converted To Blogger Template by Anshul .